Konsultasi Anak

Konsultasi Anak

Kepala Anak Selalu Terlihat Miring ke Kiri, Itu Kenapa Ya?

Categories: Tags:

Waalaikumsalam wr.wb

Kondisi leher yang terlihat miring yang dialami oleh anak Bunda Wardah saat ini dikenal juga dalam istilah medisnya dengan nama Tortikolis. Tortikolis ini merupakan gangguan pada bagian otot leher anak, sehingga kepala terlihat miring atau memutar ke samping. Selain membuat kepala anak terlihat miring, kondisi fisik yang menyertai gejala dari tortikolis ini bisa juga seperti berikut:

– Anak memiliki keterbatasan pada ruang gerak kepalanya,

– Otot pada leher anak terasa kaku,

– Anak mengeluhkan sakit pada lehernya,

– Biasa juga leher anak terlihat bengkak,

– Tremor pada kepala,

– Anak akan mengalami sakit kepala,

– Bahu pada anak akan terlihat miring juga, atau salah satunya agak naik.

Penyebab terjadinya tortikolis

Penyebab dari tortikolis ini beragam Bun, ada yang karena kerusakana pada otot leher, gangguan pada tulang belakang atas, atau bisa juga karena kerusakan pada saraf. Selain dari beberapa trauma tersebut, ada juga yang disebabkan oleh adanya infeksi yang terjadi pada , bantalan tulang belakang, ligamen yang lemah, ada tumor, dan juga karena jaringan parut. Kelainan genetik juga bisa menjadi dari anak tortikolis ini yang dimana orang tuanya juga mengalami hal yang sama.

Tortikolis ini bisa saja terjadi saat bayi Bunda masih dalam kandungan. Di mana saat di dalam kandungan posisi pada leher bayi Bunda ada yang salah. Sehingga membuat aliran darah pada leher anak mengalami gangguan.

Akan tetapi, tortikolis ini bisa saja terjadi pada beberapa orang dewasa juga, yang bahkan terjadi begitu saja tanpa sebab yang dikenal dengan istilah tortikolis idiopatik atau lebih dikenal dalam istilah sehar-harinya adalah salah bantal. Kasihan ya bantalnya di salahkan, padahal udah dipeluk, dan ditindisin, hehehe :).

Penanganan pada tortikolos

Untuk menangani tortikolis ini, bisa dengan memberikan kompres air hangat pada bagian leher. Dan, jika ada rasa nyeri yang ditimbulkan, maka bisa dengan memberikan obat pereda nyeri untuk anak, seperti ibuprofen dan juga paracetamol. Jika leher anak terasa kaku, maka bisa dibantu dengan relaksasi menggunakan diazepam.

Untuk penanganan yang lebih efektif atau yang sudah akut tentunya Anda harus berkonsultasi dengan Dokter secara langsung.

Nah , itulah yang bisa kami informasikan mengenai kondisi leher miring (tortikolis) yang dialami oleh anak Bunda. Semoga bisa bermanfaat ya Bun :).

Apakah Berbahaya Kalau Anak Mimisan Saat Demam?

Categories: Tags:

Hai, selamat sore

Mimisan ini memang terkadang dialami oleh siapa saja, tak terkecuali oleh anak-anak juga. Mimisan ini adalah suatu kondisi, di mana hidung mengeluarkan darah seperti saat keluarnya lendir atau ingus. Di dalam hidung ini ada terdapat jaringan pembuluh darah juga. Jaringan pembuluh darah yang ada di dalam hidung pada masing-masing orang ini tentunya berbeda-beda, ada yang tebal dan ada juga yang tipis. Untuk yang jaringan pembuluh darahnya yang tipis inilah yang biasanya mudah mengalami mimisan atau pendarahan pada hidungnya.

Di bawah ini ada beberapa faktor pemicu yang bisa menyebabkan keluarnya darah dari lubang hidung atau lebih dikenal dengan istilah mimisan, yaitu sebagai berikut:

– Suhu tubuh meningkat secara drastis yang meliputi, demam tinggi sehingga membuat pembuluh darah menjadi melebar yang resiko terjadinya mimisan tentu akan lebih tinggi,

– Mengalami polip pada hidung,

– Ada deviasi septum hidung, seperti tulang pada pembatas hidung tidak normal atau miring,

– Terlalu sering bersin dengan keras,

– Ada kelainan pada darah,

– Terlalu sering mengorek hidung,

– dan lain sebagainya di mana membutuhkan pemeriksaan langsung untuk mengetahuinya.

Dokter yang bisa Anda datangi untuk membantu dalam mengatasi masalah pada anak Anda ini adalah Dokter spesialis anak. Dokter spesialis anak tentunya akan membantu Anda dalam mendiagnosa kondisi yang dialami oleh si kecil melalui pemeriksaan fisik secara langsung, terkait permasalahan mimisan pada anak Anda yang sedang demam ini. Untuk demam anak Anda sendiri, maka hal yang bisa Anda lakukan adalah dengan memberinya obat penurun panas seperti paracetamol atau ibuprofen untuk anak. Jangan lupa pula untuk memberikan istirahat yang cukup untuk anak, serta asupan makanan yang bergizi untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Perhatikan pula kebutuhan cairan dalam tubuh anak Anda, agar tidak mengalami dehidrasi saat demam.

Sedangkan untuk keluhan mengenai anak muntah setelah diberikan minuman gelas atau makanan dari warung ini, sebaiknya Anda tidak memberikan makanan atau minuman bebas yang tidak terjamin kebersihan dan kesehatannya kepada anak Anda. Anak-anak memiliki sistem pencernaan dalam tubuhnya yang terbilang masih sangat rapuh, sehingga mudah terinfeksi mikroorganisme yang masuk. Sebaiknya berikan saja makanan yang alami atau olahan Anda sendiri untuk cemilan anak Anda seperti buah-buahan yang diolah menjadi jus.

Bayi Usia 6 Bulan Sudah Bisa Bicara dan Jalan, Apa Itu Normal?

Categories: Tags:

Hai, selama malam

Tumbuh kembang anak itu terbagi menjadi 4 yaitu, perkembangan motorik kasar, motorik halus, komunikasi anak (bicara), serta perkembangan sosialnya. Anak yang sudah bisa berbicara seperti anak Anda ini termasuk dalam tahapan komunikasi, dan jika dia sudah bisa berjalan maka dia berada pada tahapan perkembangan motorik kasar. Tahapan tumbuh kembang pada anak ini memang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang di antaranya, nutirisi yang diberikan, stimulasi, dan sebagainya.

Jika anak Anda memang sudah bisa berbicara di usianya yang masih 6 bulan ini, maka itu masuk dalam kategori normal. Tentunya Anda sebagai orang tua haruslah bangga dengan perkembangan anak Anda yang cepat tersebut. Orang tua yang lainnya malah mengeluhkan anaknya masih belum bisa berbicara padahal usianya sudah 1 tahun.

Di bawah ini kami ada sedikit penjelasan mengenai tahapan tumbuh kembang pada anak usia 6 bulan.

Tumbuh kembang bayi 6 bulan

Saat bayi sudah menginjak usia 6 bulanan, maka biasanya dia itu lebih senang untuk duduk di lantai dan bermain. Bahkan anak-anak di usia 6 bulan ini akan banyak mencoba berbagai posisi tubuh, lalu suka mengeksplore kondisi-kondisi yang ada di sekitarnya.

Untuk berat badan bayi yang usianya sudah menginjak 6 bulan ini, biasa memiliki bobot 6,4 kg sampai 9,7 kg, lalu tingginya 63,6 cm hingga 71,6 cm untuk bayi laki-laki. Sedangkan untuk bayi yang perempuan yang berusia 6 bulan, berat tubuhnya sekitar 5,8 kg hingga 9,2 kg dengan tinggi 61,5 hingga 70 cm.

Perkembangan Motorik

Bayi yang usianya sudah mencapai 6 bulan ini, biasanya kakinya ini sudah mampu menopang bobot tubuhnya. Nah, di saat seperti inilah Anda bisa membantunya untuk mulai berdiri dengan cara memegang ketiaknya pada pangkuan Anda atau di lantai. Melatih otot-otot kaki bayi saat sudah menginjak usia 6 bulan ini sangat penting untuk tumbuh kembang anak selanjutnya, seperti merangkak dan berjalan. Cara melatih otot-otot tersebut bisa dengan menggunakan mainan yang agak jauh dari anak Anda, dan biarkan dia berusaha untuk menjangkaunya. Dan, termasuk hal wajar jika anak Anda memang sudah bisa berjalan di usianya yang masih kurang dari 1 tahun.

Selain hal tersebut, bayi di usia 6 bulan juga sudah mencoba beberapa hal baru seperti:

– Suka memukul-mukul atau melemparkan benda ke lantai, hanya untuk memperhatikan bunyi suara yang dikeluarkan oleh benda tersebut. Lalu kembali memperhatikan benda yang dilemparnya tersebut, seakan-akan mencari sumber bunyi yang dihasilkan tadi.

– Bayi sudah bisa mulai bisa merangkak karena otot kaki dan lengannya sudah cukup kuat.

– Sudah mampu memegang dan mengangkat benda dengan satu tangan saja, lalu memindahkannya ke tangan yang satunya lagi.

– Bayi 6 bulan ini juga lebih banyak tertarik pada benda-benda kecil. Untuk itu sebaiknya Anda sebagai orang tua tetap mengawasi si kecil saat dia memainkan benda-benda yang kecil tersebut. Karena, bayi 6 bulan ini juga lebih suka memasukkan benda ke dalam mulutnya.

– Bayi di usia 6 bulan ini juga sudah mampu mengguling-gulingkan badannya maju mundur.

Perkembangan komunikasi yang berkaitan dengan kemampuan bicara

Bayi yang sudah menginjak usia 6 bulan ini umumnya sudah mampu mengeluarkan beberapa kata yang merupakan gabungan antara huruf konsonan dan juga huruf vokal seperti, “ma”, “ya”, “ah”, atau “ba”. Di usia ini bayi juga sudah mampu memperlihatkan ekspresinya terhadap benda atau sesuatu yang diinginkannya dengan cara, menunjuk, dan juga sudah bisa melambaikan tangan ke orang lain.

Melatih komunikasi atau kemampuan berbicara pada bayi bisa Anda lakukan dengan membacakan dongeng sebelum tidur, yang memiliki gambar-gambar. Ini akan membuat kemampuan bahasa dari anak menjadi lebih baik. Cara ini pun bisa mensugesti anak untuk lebih suka terhadap buku, sehingga saat dewasa lebih suka membaca buku. Anda juga bisa melatih kemampuan bahasa bayi dengan bernyanyi.

Perkembangan kemampuan sosial

Di usia bayi yang sudah menginjak 6 bulan ini, maka kemampuannya dalam berinteraksi akan lebih berkembang juga. Beberapa tanda yang diperlihatkannya itu seperti:

– Mungkin saat usia bayi Anda masih di bawah 6 bulan, dia masih belum bisa respon atau bahkan terlihat takut pada orang yang baru ditemuinya. Nah, di usia 6 bulanan ini bayi Anda akan memperlihatkan sikap yang lebih terbuka, lalu meresponnya dengan senyuman atau pun ajakan dari orang lain untuk menggendongnya, apalagi jika menurutnya orang tersebut menarik.

– Bayi akan lebih banyak mencari perhatian Anda, dengan melakukan sesuatu yang membuat Anda senang atau bahkan membuat Anda marah. Di usia inilah Anda sebagai orang tua perlu mengajarkan si kecil tentang hal yang baik dan juga buruk.

– Kalau sebelumnya bayi hanya bisa menangis untuk mengekpresikan kemarahan atau menarik perhatian, kini bayi usia 6 bulan sudah bisa berterik, memukul-kulul, atau melemparkan benda untuk mencari perhatian Anda.

– Bayi sudah lebih banyak berinteraksi dan bermain dengan orang tua dan juga anggota keluarga yang lebih dekat.

– Bayi juga akan senang ketika melihat bayangannya sendiri di cermin.

– Sudah mampu menyimpan memori dengan mengenali wajah orang tua dan juga anggota keluarga yang sering dilihatnya.

– Memberikan respon terhadap ekspresi dari orang lain.

– Bayi usia 6 bulan juga sudah mengenal namanya, sehingga kalau dipanggil namanya akan memberikan respon kembali.

Nah, itulah informasi yang bisa kami sampaikan mengenai tumbuh kembang usia anak 6 bulan. Anda tidak perlu khawatir terhadap anaknya yang tumbuh kembangnya cepat. Justru itu akan lebih baik untuknya kelak.

Anak Usia 1 Tahun Malas Makan, Apa Perlu Diberi Vitamin Nafsu Makan?

Categories: Tags:

Hai Bunda Vivian selamat siang

Setiap orang tua pasti akan merasa khawatir dengan kondisi anaknya yang malas makan. Apalagi kalau anaknya itu sudah makin kurus dan lemah. Untuk menangani hal tersebut, maka Bunda bisa mencoba beberapa cara berikut ini:

– Bunda harus tetap bersabar dalam menghadapi tingkah laku anaknya. Tetap berikan saja anak Bunda makan setiap harinya secara rutin. Bunda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan jumlah kalori perharinya kalau memang anak Bunda tidak mau makan dalam sehari. Karena, mungkin saja asupan makanan yang Bunda kemarin berikan kepada si kecil bisa saja menutupi kecukupan kalorinya untuk hari esok. Maka cara seperti ini tentunya bisa membuat si kecil tidak merasa dipaksa untuk makan. Untuk menyiasatinya lagi, Bunda bisa memberikan si kecil makan dalam porsi yang kecil saja. Sehingga si kecil bisa cepat menghabisinya, namun diberikan dalam frekuensi yang lebih sering saja ya Bun.

– Saat si kecil sedang ngantuk dan mau tidur atau lagi asik bermain, maka hindari dulu pemberian makanannya. Karena, di saat seperti ini anak pasti akan menolak untuk diberi makan, apalagi kalau lagi asik main dengan teman-temannya. Jika Bunda tetap ingin memberi si kecil makan saat bermain bersama teman-temannya, maka Bunda bisa mengajak teman-temannya juga untuk makan bersama.

– Kreasikan makanan si kecil dengan memberikan hiasan pada piring si kecil, agar itu membuatnya lebih menarik.

– Ikutkan anak saat sedang makan bersama orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Untuk pemberian vitamin penambah nafsu makannya, Bunda bisa koq memberikan vitamin apa saja kepada si kecil. Asalkan Bunda tetap memperhatikan jumlah takaran yang sesuai dengan usia si kecil.

Jika memang kondisi dari si kecil saat ini semakin kurus dan menjadi semakin lemah, maka sebaiknya Bunda segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Karena, kekhawatiran kami anak Bunda ini mengalami dehidrasi, yang sebaiknya harus diberikan cairan infus.

Itulah informasi yang bisa kami berikan kepada Bunda seputar permasalahan si kecil yang malas makan dan semakin lemah ini. Semoga bisa membantu ya.

Anak Susah Makan dan Berat Badan Kurang, Bagaimana Mengatasinya?

Categories: Tags:

Selamat malam

Anak yang sedang malas makan, atau menolak semua jenis makanan yang diberikannya, sudah menjadi masalah rutin bagi para orang tua, sehingga ini pun bukanlah hal yang baru lagi. Namun, anak yang malas makan ini tentunya akan menjadi kekhawatiran bagi para orang tua, untuk perkembangan pada anaknya kelak. Kondisi seperti ini memang kerap kali dialami oleh anak yang masih termasuk golongan balita. Untuk itu, Anda sebagai orang tua sebaiknya pintar-pintar untuk menyiasati anak yang susah makan ini.

Hal yang perlu Anda lakukan sebagai orang dalam mengatasi masalah anak yang susah makan seperti ini adalah mengamati tingkah laku anak Anda yang malas makan tersebut. Pada umumnya anak yang malas makan akan memperlihatkan tingkah laku seperti:

– Anak akan menolak saat diberi suap makanan, bahkan menutup mulutnya.

– Anak hanya ingin makan kalau jenis makanan tertentu saja.

– Anak lebih suka makanan yang instant atau cepat saji.

– Anak akan menolak makan jika kemarinnya sudah diberikan makan yang banyak.

– Anak hanya makan satu jenis makanan saja.

– Anak secara tiba-tiba tidak ingin makanan atau minum yang sebelumnya menjadi favoritnya.

Jika memang tanda-tanda seperti itu ada pada anak Anda yang lagi malas makan sekarang ini, maka inilah tips yang bisa Anda lakukan.

– Ikutkan anak saat makan bersama, atau membuatkan acara makan yang khusus secara rutin, agar anak memiliki banyak teman makan.

– Upayakan agar memberikan anak pola makan yang terjadwal dan dibuat konsisten.

– Ajarkan anak untuk makan dengan sendirinya.

– Anda juga bisa memberikan maksimal 2 jenis makanan saja, di piring makan anak.

– Perlengkapan makan juga bisa menjadi daya tarik untuk anak agar bisa maka. Untuk itu, berikan si kecil tempat makan yang unik, dengan gambar atau berwarna-warni.

– Anda bisa juga mengajak teman-teman si kecil untuk makan bersama di rumah.

– Jauhkan anak dari mainan, binatangn peliharaan, dan juga tv yang bisa mengganggu perhatiannya.

– Ajak anak terlibat saat Anda berbelanja makanan hingga menyajikan makanan tersebut.

Agar berat badan anak bisa bertambah, pastikan asupan gizi yang diterima anak bisa lebih banyak. Dan, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter spesialis anak untuk gizi dan nutrisi yang baik untuk anak Anda.

Semoga bermanfaat.

Apa Solusi Untuk Menangani Gondongan Pada Anak

Categories: Tags:

Penyakit gondongan ini merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi terhadap virus, sehingga kelenjar parotis menjadi bengkak. Kelenjar parotis sendiri merupakan tempat untuk memproduksi air liur, yang letaknya berada di dalam telinga. Virus tersebut menyebar melalui udara yang telah terkontaminasi dari penderita gondongan lainnya, misalnya dari batuk atau bersin, dan bisa juga secara tidak langsung melalui barang-barang yang telah digunakan oleh penderita itu sendiri seperti gelas, handuk, dan lain sebagainya.

Biasanya untuk menangani penderita gondongan ini tidak diperlukan penanganan yang khusus. Karena memang proses penyembuhan dari penyakit gondongan ini tergantung dari sistem imunitas tubuh sendiri untuk bekerja melawan infeksi yang dialami dan bisa berlangsung hingga 10 sampai 14 hari lamanya. Tapi untuk membantu dalam meringankan gejala yang ditimbulkan oleh gondongan ini, kami ada beberapa tips untuk Anda, yang bisa dilihat di bawah ini:

– Berikan kompres pada bengkak yang terasa sakit tersebut dengan menggunakan kain yang telah dibasahi dengan air hangat.

– Pastikan anak beristirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuhnya.

– Perbanyak memberikan air putih untuk anak.

– Untuk sementara waktu, anak diberikan saja makanan yang bertekstur lebih lunak agar tidak menimbulkan rasa sakit saat mengunyah.

– Jika anak sampai demam dan merasakan nyeri, maka obat paracetamol bisa membantu untuk mengurangi gejala tersebut yang tentunya bisa Anda dapatkan di apotik-apotik terdekat, dan berikan sesuai dengan dosisi yang dianjurkan saja.

Kondisi lain yang bisa diderita anak Anda ini adalah Abses, yang menyebabkan penumpukan nanah pada bagian bawah kulit karena infeksi bakteri. Pemeriksaan secara fisik akan lebih mempermudah untuk mendiagnosa perbedaan dari kedua kondisi tersebut. Yang perlu Anda lakukan saat ini adalah mengikuti anjuran Dokter untuk langkah tepat penanganan pada penyakit yang diderita anak Anda.

Balita Hanya Batuk Saat Malam, Bagaimana Mengatasinya?

Categories: Tags:

Hai Pak Putra, selamat malam

Perlu Bapak ketahui bahwa batuk itu sebenarnya salah satu bentuk dari sistem pertahanan tubuh pada seseorang untuk menolak adanya penyakit atau gangguan dalam tubuh. Karena, batuk ini akan bekerja untuk membantu dalam mengeluarkan gangguan tersebut seperti lendir, atau benda-benda asing yang masuk melalui saluran pernapasan atau tenggorokan hingga ke paruparu.

Anak yang batuk hanya pada malam hari saja disertai dengan kondisi muntah dan lainnya seperti yang dialami anak bapak, biasanya lebih mengarah kepada penyakit asma. Untuk anak yang mengalami asma tersebut biasanya proses penyembuhannya akan memakan waktu yang cukup lama Pak. Dan, hal tersebut bisa juga muncul diakibatkan oleh faktor anak terlalu banyak memiliki aktivitas seperti, berolahraga yang berat, dan lain sebagainya. Anak yang mengalami penyakit asma ini biasanya memang batuknya pada malam hari dan juga ada suara mengi yang terdengar saat anak bernapas, dan tentunya anak mengalami sesak pada pernapasannya juga.

Kondisi lainnya yang bisa dialami oleh anak Bapak ini juga bisa terjadi karena penyakit flu. Flu ini terjadi karena anak terkena infeksi dari bakteri atau virus dan pada umumnya disertai pula dengan peningkatan suhu tubuh anak (demam panas). Bisa juga disebabkan karena faktor polusi udara (asap rokok / kendaran) atau lingkungan yang tidak sehat, dan lain sebagainya.

Untuk jenis batuk yang disebabkan oleh infeksi ini pada umumnya tidak memerlukan penanganan yang khusus, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah 2 minggu. Selain hal tersebut, ada juga beberapa tips yang bisa membantu Bapak Putra untuk membantu meringankan batuk pada si kecil, yaitu sebagai berikut:

– Jagalah asupan gizi dan nutrisi pada anak setiap hari, dengan memberikan makanan-makanan yang sehat.

– Perhatikan pula cairan tubuh anak jangan sampai mengalami dehidrasi. Bapak bisa memberikan si kecil teh hangat, jus lemon dengan madu.

– Berikan terapi uap dengan menggunakan air hangat di dalam wadah untuk dihirup oleh anak.

Jika batuk pada si kecil tidak juga kunjung sembuh padahal sudah lebih dari 2 minggu, hingga menimbulkan gejala anak susah bernapas, rewel, batuk yagn disertai bercak titik darah, muntah, pucat, dan lain sebagainya, maka yang perlu Bapak lakukan adalah membawanya segera ke rumah sakit atau Dokter spesialis anak untuk mendapatkan penanganan dengan tepat.

Balita Demam Naik Turun Disertai Batuk Pilek, Bagaimana Menanganinya?

Categories: Tags:

Hai Bapak Abdi, selamat malam

Anak yang usianya masih tergolong balita seperti anak Bapak Abdi ini memang adalah usia yang sangat rentan terhadap segala macam penyakit. Berdasarkan kondisi atau gejala yang Bapak sebutkan di atas itu, mungkin saja anak Bapak ini sedang mengidap penyakit yang dinamakan pneumonia. Penyakit ini memang bisa saja menghinggap siapa pun, tidak terkecuali anak balita. Gejala-gejala pada anak yang mengidap penyakit pneumonia ini pada umumnya, antara lain sebagai berikut:

– Anak batuk dengan dahak yang juga disertai dengan pilek

– Anak akan mengalami demam yang tinggi bahkan mencapai 40 derajat celcius

– Anak mengalami sesak pada saat bernapas

– Anak akan mual-mual dan hingga muntah, yang akan membuat nafsu makannya juga akan menurun

– Warna tubuh pada anak terlihat kebiru-biruan

– dan gejala lainnya

Akan tetapi, untuk memastikan hasil diagnosa penyakit yang dialami oleh anak Bapak sekarang ini, maka sebaiknya dibawa ke Dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Karena, gejala yang seperti Bapak jelaskan tersebut bisa juga termasuk dalam golongan penyakit, Bronkopneumonia, asma bronkiale, ISPA, tifus, peradangan telinga, dan lain sebagainya. Hampir semua gejala dari penyakit-penyakit tersebut memang sama, sehingga dibutuhkan pemeriksaan secara fisik langsung.

 

Apalagi anak Bapak sudah mengalami demam selama 2 hari dan sangat tinggi mencapai 40 derajat celcius. Untuk itu, pemeriksaan lebih lanjut oleh Dokter tentunya akan memberikan hasil maksimal untuk penanganan pada anak Bapak ini.

Sebagai saran untuk Bapak dalam merawat si kecil ini, sebaiknya tetap rutin melengkapi kebutuhan nutrisinya. Jika anak memang malas makan, maka cukup diberikan porsi kecil saja, tapi dibuat lebih sering.

Semoga bisa membantu ya.

Bagaimana Cara Yang Tepat Untuk Mengatasi Kegemukan Pada Anak?

Categories: Tags:

Waalaikumsalam wr.wb

Anak dengan kasus berat badan yang berlebih ini memang cukup banyak dialami saat ini. Berat badan berlebih pada anak juga dikenal dengan istilah obesitas. Nah, di bawah Anda bisa melihat beberapa penyebab dari obesitas pada anak, yaitu sebagai berikut:

– Faktor genetik dari kedua orang tua memiliki peranan penting dalam hal obesitas pada anak. Akan tetapi, walaupun ini termasuk faktor penting, namun ternyata tidak semua keluarga yang berat badannya berlebih akan menurun ke anaknya kelak.

– Anak kurang beraktivitas fisik juga termasuk salah satu penyebab obesitas. Apalagi anak-anak jaman sekarang ini semakin dimanjakan dengan adanya smartphone atau permainan lainnya yang tidak dibutuhkan aktivitas gerakan fisik secara menyeluruh. Aktivitas seperti ini tentunya tidak membuat tubuh melakukan proses pembakaran kalori.

– Anak terlalu banyak mengkonsumsi jajanan atau makanan yang tidak sehat, apalagi di jaman sekarang ini sudah banyak sekali beredar rumah makan yang menyajikan makanan cepat saji.

– Adanya efek samping dari obat tertentu yang dikonsumsi oleh anak.

– Gangguan hormon, namun sangat jarang ditemukan.

– dan masih banya lagi penyebab lainnya.

Anak yang gemuk atau obesitas ini termasuk sebagai sarang penyakit nantinya. Beberapa penyakit yang kerap kali menghinggapi anak yang obesitas ini termasuk penyakit-penyakit mematikan antara lain adalah, penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, hiperkolesterol, dan beberapa penyakit berbahaya lainnya.

Dalam membantu anak yang mengalami berat badan berlebih ini, tentunya kerjasama keluarga sangatlah dibutuhkan, sepertinya misalnya dukungan dan juga perhatian terhadap anak yang obesitas. Dukungan dan perhatian tersebut berupa perubahan pola hidup yang lebih baik dengan melakukan kegiatan-kegiatan dan juga berbagai aktivitas yang membutuhkan pergerakan yang lebih banyak. Berolahraga secara teratur, serta memperbaiki jenis dan juga pola makan yang dikonsumsi setiap harinya. Untuk anak Anda yang sekarang berusia 7 tahun, sepertinya sudah cukup mudah menangkap mengenai penjelasan seperti ini.

Selain itu, Anda juga haruslah rutin memeriksakan kondisi anak Anda ke Dokter spesialis anak. Di sana tentunya Anda akan diberikan pengarahan yang lebih tepat mengenai berat badan yang sesuai dengan kondisi tinggu dan usia anak Anda sekarang.

Itulah informasi yang bisa kami sampaikan. Semoga bisa membantu ya.

Bagaimana Mengatasi Temper Tantrum Pada Balita?

Categories: Tags:

Hai Bunda Cindy

Temper tantrum ini merupakan aksi dari emosi anak yang negatif, yang terjadi jika anak sedang frustrasi. Anak yang frustasi ini biasanya disebabkan karena, keinginannya yang tidak diperhatikan atau tidak sesuai yang diharapkannya. Kondisi seperti ini, memang paling umum kami temui pada anak yang usianya masih berada antara 1 sampai 3 tahun. Bahkan kondisi ini hampir dialami oleh semua anak, yang sepertinya masuk dalam tahapan tumbuh kembang anak.

Ekspresi anak yang mengalami temper tantrum ini bermacam-macam Bun. Ada anak yang mengekspresikannya dengan menangis, menjerit dengan keras, memukul, menendang, menggigit, berteriak dengan sekeras-kerasnya, meronta-meronta, berguling kesana-kemari di lantai, dan masih banyak lagi tindakan lainnya untuk mengekpresikan kemarahan dari si kecil.

Anak yang menangis merupakana salah satu bentuk dalam mengekspresikan emosi anak, saat Anda memberi larangan padanya, saat dia ingin melakukan sesuatu. Beberapa pakar biasanya hanya menyarankan kepada para orang tua untuk membiarkan si kecil menangis begitu saja sampai dia bisa tenang sendiri, tapi jangan meninggalkannya, Bunda harus tetapi mengawasinya. Kemudian Anda bisa juga langsung menjelaskan secara tenang mengenai tindakannya yang dilarang tersebut.

Penyebab temper tantrum pada anak

– Anak yang keinginannya tidak terpenuhi atau tidak sesuai yang diharapkan tentunya adalah salah satu penyebab dari anak mengeluarkan ekspresi-ekspresi kemarahannya yang termasuk tanda dari temper tantrum.

– Temper tantrum pada anak ini juga bisa terjadi karena, si kecil belum mampu berkomunikasi dengan baik, sehingga untuk mengungkapkan keinginannya itu sangat sulit. Ditambah Anda sebagai Bunda juga tidak terlalu mampu memahami keinginan dari si kecil.

– Anak mengalami stress karena merasakan perasaan tertekan, sepertinya misalnya, saat si kecil diikutkan pada sebuah perjalanan yang sangat jauh dan membosankan, dan saat diperjalanan tersebut si kecil sedang ingin sesuatu tapi tidak bisa dipenuhi atau dimengerti oleh Bunda.

– Penyebab selanjutnya adalah cara atau pola mengasuh dari kedua orang tua yang terlalu memanjakan si kecil, dan tiba-tiba ada permintaan dari si kecil tidak dapat Anda penuhi. Untuk itu sebagai orang tua, memanjakan anak memang bisa saja, tapi jangan terlalu berlebihan. Dan berikan pula contoh pada anak yang bersifat positif untuk ditirunya.

– Penyebab yang terakhir adalah komunikasi antara orang tua dan anak itu sendiri. Sebagai orang tua tentunya Anda harus lebih aktif berkomunikasi dengan si kecil. Ini akan membantu si kecil dalam proses berbicaranya, dan juga mengetahui keluhan atas kondisi yang dialami oleh si kecil untuk menekan gejala temper tantrum tersebut.

Itulah beberapa penyebab hingga anak mengalami temper tantrum. Jika Bunda sudah memahami penyebab dari temper tantrum tersebut, di bawah ini kami telah merangkumkan kepada Bunda tentang tips pendekatan yang bisa Bunda lakukan saat si kecil mengalami temper tantrum tersebut.

Tips bagi orang tua untuk anak yang temper tantrum

– Sebagai orang tua, Anda harus tetap tenang dalam menghadapi segala tingkah laku dari si kecil, apalagi untuk Bunda yang tentunya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan si kecil. Karena, penelitian mengungkapkan bahwa, jika Anda membalas tindakan si kecil dengan kondisi emosional juga maka yang ada temper tantrum pada anak akan menjadi semakin kuat. Jika memang Anda masih sulit untuk mengendalikan emosi, maka yang perlu Bunda lakukan adalah dengan keluar rumah sejenak dan tarik nafas yang dalam. Setelah itu kembali temui anak Bunda untuk menenangkannya.

– Jika memang Bunda bisa mengendalikan emosi dengan baik, maka tetaplah bersama si kecil.

– Hindari untuk pemberian hadiah atau imbalan pada anak jika dia sedang marah atau rewel.

– Anda sebagai orang tua juga harus tetap konsisten, dan jangan mudah goyah terhadap keinginan anak dan emosinya.

– Hiraukan saja sampai emosinya tersebut mereda

– Ingatkan si kecil mengenai aturan-aturan yang telah disepakati bersama dengan tegas, tapi dalam konteks tanpa marah atau tetap lembut dalam memberikan arahan.

– Jangan pernah menghukum anak secara fisik seperti, memukul, dan mencubit. Jika memang anak sudah semakin menjadi-jadi, maka cukup berikan pelukan kepada si kecil sambil memberikannya penjelasan, hingga dia kembali tenang.

– Temukan penyebab tantrum pada si kecil, agar Anda bisa dengan mudah menenangkannya, dengan penjelasan yang lebih baik.

– Hibur anak Anda dan pastikan pula kalau Anda sangat menyayanginya.

– Hipnoterapi pada saat anak tertidur juga bisa Bunda lakukan, dengan kata-kata atau sugesti yang positif tentunya.

Nah, itulah beberapa tips yang sempat kami rangkum dari ahlinya. Namun, semua itu dikembalikan lagi kepada Anda sebagai orang tua dan juga kondisi si kecil. Tips-tips tersebut tentunya tidak akan berhasil secara instant, namun dengan tindakan yang konsisten maka itu bisa membantu dalam menangani temper tantrum pada si kecil.

Semoga bisa membantu ya Bun.

Benjolan Pada Ujung Tulang Ekor Sebesar Telur Puyuh Tidak Sakit, Itu Apa Ya?

Categories: Tags:

Hai Bunda Afni, selamat siang

Benjolan yang muncul pada anak Bunda tersebut, bisa saja tergolong dalam beberapa penyakit berikut ini:

– Kista Pylonidal

Kista Pylodinal ini adalah sebuah kantong pada kulit yang berisi dengan rambut dan juga sisa-sisa dari kulit mati, yang muncul tidak normal (benjolan). Pada umumnya, tempat tumbuh dari Kista pilonidal ini berada pada tulang ekor atas dan juga pada celah bokong (pantat). Penyebab kemunculan kista ini biasanya oleh adanya rambut yang menusuk pada kulit, yang lama kelamaan akan tertanam pada kulit. Jika kista ini mengalami infeksi atau luka, maka akan terasa sangat menyakitkan. Resiko untuk orang-orang yang mengalami kista pilodinal ini jika duduk terlalu lama seperti, supir truk.

Gejala

Gejala dari kista pilodinal ini seperti benjolan (bengkak), yang disertai pula dengan gejala lainnya seperti:

  • Sakit pada area kista tersebut
  • Muncul warna merah pada area kulit kista
  • Ada darah atau nanah yang mengalir dari lubang pada kulitnya
  • Nanah yang keluar tersebut memiliki bau yang busuk

Jika memang tanda-tanda di atas sudah muncul pada anak Bunda, maka sebaiknya segera di bawa ke Dokter saja untuk diberikan penanganan yang tepat dan sesuai.

– Bisul

Untuk jenis penyakit yang satu ini sepertinya sudah Bunda kenal sendiri. Bisul merupakan penyakit yang bisa saja dialami oleh siapa saja. Munculnya bisul ini karena infeksi pada kulit, yang tanda-tandanya itu seperti warna merah pada kulit, lalu lama-kelamaan akan membesar. Jika sudah membesar, biasanya bisul tersebut akan muncul nanah pada bagian tengah benjolan tersebut, yang disertai pula dengan rasa nyeri.

Penyebab bisul

  • Bunda kurang menjaga kebersihan tubuh dari si kecil
  • Ada infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang masuk
  • Mengkonsumsi makanan secara bebas dan tidak sehat
  • Sistem kekebalan tubuh yang terjaga dengan baik atau lemah

Langkah penanganan bisul

– Jika memang gejala yang muncul pada anak Bunda ini adalah bisul dan masih terbilang baru, maka sebaiknya segera diobati. Jangan biarkan bisul tersebut menjadi semakin membesar dan membengkak, karena bisa meninggalkan bekas dan kerusakan pada jaringan kulit si kecil.

– Bisul yang masih tergolong ringan atau kecil ini, cukup mudah disembuhkan. Bunda cukup memberikan salep antibiotik oles pada bisul anak, dan cara ini memang cukup terbilang ampuh mengatasi bisul.

– Jika bisul yang dialami oleh anak Bunda ini sudah cukup besar dan lama, maka salep antibiotik saja biasanya tidak cukup untuk menyembuhkannya. Bunda juga harus memberikannya obat antibiotik minum, sebagai langkah pengobatan dari dalam.

– Jika bisul pada anak Bunda ini sudah ada nanah yang muncul, maka sebaiknya tindakan penanganannya ini dilakukan oleh Dokter. Dokter akan membantu untuk mengeluarkan nanah tersebut dengan bantuan pisau untuk membuka lubang keluarnya nanah tersebut. Bunda jangan memecah bisul tersebut sendiri, karena itu bisa membuat bekas yang kemungkinan besar berbekas selamanya.

– Pastikan si kecil tidak menggaruk atau memencet sendiri bisulnya tersebut dengan kukunya. Karena, bakteri dari bisul tersebut bisa melengket pada kuku si kecil, yang kemudian akan menularkannya ke anggota keluarga lainnya.

– Bisul yang berulang atau sudah sering dialami, ada baiknya diperiksakan ke Dokter, karena bisa saja hal tersebut diindikasikan dengan penyakit lainnya seperti diabetes.

– Folikulitis Atau Peradangan Akar Rambut

Sama seperti dengan namanya yaitu peradangan akar rambut yang berarti folikel pada akar rambut menjadi meradang. Peradangan pada folikel rambut ini pada umumnya disebabkan oleh bakteri atau jamur. Gejala pada peradangan akar rambut ini seperti benjolan merah yang agak kecil atau seperti jerawat yang berwarna putih pada daerah sekitar folikel rambut. Infeksi tersebut bisa saja menyebar dengan mudah dan cepat, dan menjadi luka berkerak.

Yang mengalami hal tersebut pasti akan merasakan rasa gatal, sakit, dan tentunya akan malu jika munculnya pada bagian yang mudah terlihat. Penyakit ini tidak terlalu berbahaya apalagi sampai mengancam jiwa, namun jika sudah cukup lama atau berat dan tidak diberikan penanganan yang sesuai, maka efeknya itu akan membuat rambut rontok serta bekasnya pun akan muncul selamanya. Untuk Folikulits yang ringan, biasanya dapat disembuhkan hanya dalam beberapa hari saja dengan hanya mengandalkan perawatan diri secara mendasar. Jika folikulitisnya sudah serius dan berulang, maka sebaiknya dilakukan penanganan oleh Dokter langsung.

Gejala

  • Pada awalnya muncul benjolan kecil yang berwarna merah pada daerah sekitar folikel rambut
  • Pada daerah tersebut berisi nanah yang dilapisi dengan lapisan cukup keras
  • Kulit sekitar meradang
  • Terasa gatal pada area kulit sekitar
  • Terasa nyeri
  • Benjolan menjadi membesar atau membengkak

Obat antibiotik atau anti jamur bisa membantu untuk meringankan sementara gejala yang timbul. Tapi, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan Dokter.

Dan, masih banyak lagi kemungkinan penyakit yang terkait dengan benjolan pada bagian pantat anak Bunda tersebut. Untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut, ada baiknya Bunda segara memeriksakan kondisi si kecil ke Dokter, untuk mencegah kondisi terburuk dari benjolan tersebut.

Semoga informasi yang telah kami sampaikan di atas bisa membantu ya Bun.

Anak Keringat Dingin Pasca Demam Tinggi, Apa Itu Normal?

Categories: Tags:

Hai, selamat siang

Keringat dingin pada anak pasca demam ini memang bisa dikatakan hal yang wajar. Bukan hanya anak-anak saja yang biasa mengalami hal tersebut, orang dewasa pun terkadang mengalaminya. Keluarnya keringat yang banyak serta suhu tubuh terasa dingin ini, merupakan bentuk reaksi dari tubuh yang normal agar bisa menghasilkan panas. Pada saat anak sudah sembuh dari demamnya, maka respon dari tubuh adalah mengeluarkan keringat dan suhu tubuh pun akan menjadi terasa dingin saat diraba khususnya pada bagian kaki dan tangan anak.

Jika memang semua hasil pengecekan dari laboratorium rumah sakit masih normal-normal saja menurut Dokter yang menangani anak Bunda, maka Bunda tidak perlu terlalu khawatir lagi. Yang perlu Bunda lakukan saat ini untuk merawat anak pasca demamnya di rumah adalah sebagai berikut:

– Pastikan jumlah cairan dalam tubuh anak Bunda tetap terjaga dan tercukup setiap harinya, dengan rutin memberikannya air putih.

– Pastikan pula si kecil mendapatkan istirahat yang cukup, untuk bisa memulihkan kondisi tubuh sepenuhnya pasce demam tersebut.

– Jika memang anak Bunda tetap lahap makannya, maka tambahkanlah jumlah gizi pada makanan anak Bunda sehari-harinya untuk menjaga sistem kekebalan tubuhnya.

– Jika ada obat yang diberikan oleh Dokter dari rumah sakit, maka sebaiknya dihabiskan sesuai dengan anjuran dari Dokter yang menaganinya. Jangan berhenti diminumkan obatnya walaupun demamnya sudah turun.

Nah, itulah informasi yang bisa kami sampaikan sampaikan untuk Bunda.

Memberikan 3 Butir Antibiotik Sekaligus Pada Anak, Apa Tidak Berbahaya?

Categories: Tags:

Hai Bunda Lani, selamat malam

Antibiotik ini merupakan jenis obat yang memiliki dosis yang berbeda-beda Bun. Dan, biasanya pemberian antibiotik pada anak yang sakit ini sudah diperhitungkan dengan tepat oleh Dokter yang memberikan obatnya, sesuai dengan kondisi dari anak Bunda. Maka dari itu, setiap anjuran dan petunjuk dari Dokter untuk meminumkan obat pada si kecil, sebaiknya Bunda patuhi. Dan, jika memang Dokter menyarankan untuk meminumkan obatnya 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan malam, maka itu berarti Bunda hanya boleh memberikan 1 butir obat per-periode waktu tersebut, dan tidak boleh lebih.

Kalau pun memang Bunda lupa memberikannya saat pagi dan siang, maka Bunda tidak boleh menggabungkan semuanya pada malam hari, dengan memberikan langsung 3 butir obat pada si kecil. Hal tersebut, karena setiap obat baik itu antibiotik, suplemen, vitamin, atau pun obat lainnya, tentunya akan memiliki efek samping pada tubuh, serta bisa juga menyebabkan alergi. Penyebab munculnya efek samping tersebut salah satunya adalah pemberian obat dengan dosis yang tidak sesuai atau terlalu banyak dari dosis yang telah ditentukan.

Untuk efek sampingnya sendiri berbeda-beda dari masing-masing jenis obat tersebut. Gejala yang ditimbulkannya pun beragam yaitu seperti, mual dan juga muntah, kepala terasa berat dan nyeri, seluruh tubuh terasa sakit (nyeri), diare, dan juga gejala lainnya yang bisa saja lebih berat.

Mudah-mudahan Bunda belum sempat memberikan 3 butir obat tersebut kepada si kecil secara bersamaan ya! Kalau memang Bunda sudah meminumkannya, maka sebaiknya Bunda perhatikan gejala yang ditimbulkannya. Jika, memang ada salah satu saja gejala seperti yang telah kami jelaskan di atas dialami oleh anak Bunda, maka sebaiknya segera bawa anak Bunda ke Dokter untuk diberikan penanganan yang tepat.

Untuk itu, Bunda seharusnya teliti dan memperhatikan kondisi si kecil apalagi saat sedang sakit seperti sekarang ini. Ikutilah anjuran dari Dokter mengenai frekuensi pemberian obat, agar anak Bunda pun bisa cepat sembuhnya.

Semoga bisa memberi manfaat informasinya ya Bun.

Berat Badan Anak Saya Terus Bertambah, Bagaimana Solusinya?

Categories: Tags:

Halo Bunda

Masalah kegemukan pada anak merupakan salah satu masalah yang sebenarnya cukup serius. Karena kegemukan alias obesitas pada anak bisa menyebabkan komplikasi serius yang memicu berbagai penyakit, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi
  • Kolesterol tinggi
  • Diabetes tipe 2
  • Penyakit yang berkaitan dengan pernapasan
  • Penyakit lemak hati yang disebabkan oleh penumpukan lemak di tubuh sehingga dapat merusak organ hati
  • Gangguan pola tidur
  • Pubertas dini
  • Gangguan pada tulang
  • Gangguan psikis seperti tidak percaya diri, gangguan perilaku karena sulit bersosialisasi hingga depresi

Anak yang kegemukan memang sangat berisiko mengalami gangguan penyakit pada fisik dan psikisnya bahkan itu dua kali lebih berisiko jika dibandingkan dengan orang dewasa.

Pada kasus si kecil sekarang ini dimana ia mengalami berat badan berlebih dan makin bertambah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Faktor genetik, faktor ini sangat berperan terhadap obesitas hanya saja biasanya beberapa anak juga tidak mengalami obesitas meski ia berada di keluarga yang mengalami berat badan berlebih
  • Kurangnya aktivitas fisik, sekarang ini dengan makin majunya teknologi anak cenderung jadi kurang bergerak kebanyakan mereka cenderung lebih banyak duduk saat bermain di depan komputer atau ponsel atau sekedar nonton tv
  • Asupan makanan yang tidak sehat khususnya terhadap menu makanan cepat saji
  • Gangguan hormonal
  • Efek samping penggunaan obat
  • Dan lain sebagainya

Kecemasan yang Bunda alami terhadap kondisi si kecil sekarang ini, bisa dibilang sebagai kecemasan yang tepat karena mengingat bahaya obesitas yang sangat berisiko terjadi pada si kecil.

Bagi anak yang kegemukan, mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga adalah hal yang sangat penting. Untuk itu untuk mengatasi obesitas yang dialami si kecil penting agar Bunda bisa mengubah pola hidup secara bersama-sama. Mulai sekarang kurangi aktivitas di dunia virtual dengan memperbanyak aktivitas gerak tubuh, seperti bermain di luar rumah, berolahraga dan yang paling penting adalah melakukan pola makan yang tepat seperti makan teratur dengan makanan sehat. Hilangkan semua kebiasaan buruk yang Bunda lakukan dan ajak si kecil untuk mulai melakukan pola hidup yang sehat. Berikan pengertian yang baik bukan dengan rasa marah.

Apakah Anak yang Sering Kagetan Waktu Tidur Berbahaya?

Categories: Tags:

Hai

Setiap anak dalam masa pertumbuhannya memang sering kali mengalami kejadian yang mengejutkan, seperti terbangun saat tidur karena terkejut. Kondisi yang dialami si adik bisa dikatakan wajar tapi juga bisa dikatakan tidak wajar atau berbahaya.

Pada anak kaget saat tidur merupakan sebuah kondisi yang sering kali terjadi, khususnya pada anak yang masih berusia di bawah 2 tahun. Kaget terjadi bisa dipicu oleh banyak hal, tapi pada anak penyebab paling sering kaget ketika tidur adalah mimpi buruk. Tapi selain mimpi buruk penyebab anak kaget saat tidur juga bisa terjadi karena kondisi yang tidak nyaman. Misalnya karena suhu ruangan yang terlalu tinggi, seperti kepananasan atau kedinginan hingga rasa lapar sehingga dapat memunculkan rasa tidak nyaman yang membuatnya jadi terbangun secara tiba-tiba.

Selain faktor tersebut kaget yang membuat anak jadi terbangun juga bisa karena sebuah gerakan refleks tubuhnya seperti refleks moro. Refleks moro sendiri merupakan sebuah kondisi dimana anak akan kaget jika anak merasa seperti “dijatuhkan” atau akan dijatuhkan, yang membuat kedua tangan dan kakinya jadi terbuka seperti sedang kaget.

Hanya saja dari keterangan singkat yang dijelaskan di atas, si adik mungkin tidak mengalami refleks moro. Karena umumnya refleks moro hilang dengan sendirinya saat usia anak sudah memasuki usia 6 bulan, sedangkan si adik sendiri sekarang sudah berusia lebih dari 1 tahun. Tapi untuk lebih memastikannya disarankan agar si kecil dapat menjalani pemeriksaan.

Kondisi yang terjadi pada si adik sekarang ini masih bisa dikatakan wajar, apalagi jika tidak adda gejala mencurigakan yang ikut terjadi. Hanya saja jika cemas dengan kondisi si adik sebaiknya periksakan ke dokter spesialis anak. Nantinya si adik akan menjalani pemeriksaan fisik secara langsung termasuk pula pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosa sehingga menemukan penyebabnya. Mungkin juga adik akan menjalani pemeriksaan syaraf untuk mengecek bidang syarafnya, apakah ada kelainan atau tidak.

Semoga bermanfaat ya, jangan lupa bawa adik ke dokter :)

Bagaimana Mengatasi Anak yang Tidak BAB Selama 1 Minggu?

Categories: Tags:

Hai

Anak yang susah BAB ataupun anak yang frekuensi BABnya yang jarang memang selalu identik dengan masalah konstipasi. Hanya saja pada beberapa anak hal tersebut tidak bisa dipastikan tanpa adanya pemeriksaan dokter lebih dulu.

Bunda pada anak yang masih berusia 0 sampai 5 bulan dan hanya mendapatkan asupan ASI, frekuensi BAB yang hanya 1 kali dalam 1 minggu masih bisa dikatakan normal. Hanya saja hal tersebut jika tidak diikuti dengan beberapa gejala lainnya. Seperti anak jadi rewel, perutnya terasa keras, membesar, anak sering mengangkat kaki, demam, lemas, tidak mau menyusu, bentuk dan warna kotorannya berubah hingga terdapat bercak darah di kotorannya. Jika anak susah buang air besar dan diikuti dengan gejala-gejala tersebut maka Bunda harus khawatir, karena itu bisa jadi tanda penyakit tertentu.

Namun jika tidak maka Bunda bisa bernapas lega. Anak yang BAB sekali dalam seminggu disebabkan karena pergerakan ususnya yang lambat. Hal tersebut bisa terjadi pada anak yang hanya medapatkan ASI karena pada dasarnya ASI memang merupakan asupan yang sangat mudah dicerna oleh bayi sehingga semua kandungan ASI  diserap tubuh dengan baik dan hanya menyisakan sedikit ampas alias sisa-sisa makanan yang tidak dicerna menjadi kotoran. Kotorannya baru akan keluar jika ampas-ampas tersebut sudah cukup banyak di muara usus besar yang kemudian akan memberikan rangsangan untuk BAB.

Waktu 7 hari masih bisa dikatakan wajar, bahkan beberapa kasus ada bayi yang tidak BAB sampai 14 hari. Hanya saja sebaiknya Bunda tidak tinggal diam jika si kecil tidak BAB selama 10 hari, disarankan agar Bunda memeriksakan si kecil ke dokter spesialis anak agar ia bisa mendapatkan penanganan yang terbaik.

Apakah Anak yang Sering Terbangun untuk Menyusu Normal?

Categories: Tags:

Halo Bunda

Pada fase tumbuh kembang anak, semakin bertambahnya usia memang biasanya akan memunculkan kondisi yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Hal inilah yang kadang memunculkan rasa khawatir pada setiap orangtua. Salah satunya kondisi yang terjadi pada si kecil sekarang ini, dimana mungkin hampir setiap malam si kecil akan terbangun untuk menyusu.

Menghadapi fase tumbuh kembang anak setiap orangtua penting untuk bersikap tenang karena cara inilah menjadi langkah terbaik. Seperti menghadapi situasi si kecil sekarang ini.

Bunda tidak perlu khawatir jika si kecil sering terbangun di malam hari untuk menyusu karena hal ini sebenarnya merupakan kondisi yang cukup wajar terjadi. Meski sedang tertidur, si kecil sangat mungkin terbangun karena ia merasa lapar. Jadi apakah kebiasaan ini bisa dikatakan normal atau tidak maka tentu saja kebiasaan ini sangat normal.

Anak memang biasa terbangun di malam hari, selain karena merasa lapar dan ingin menyusu ia juga terbangun karena beberapa faktor lainnya. Seperti ingin mendapatkan kenyamanan dari Bunda atau karena bermimpi. Menyusu selain untuk memberikan asupan terbaik bagi si kecil fase ini juga menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi anak baik itu secara psikis ataupun secara psikis. Sehingga hal tersebut sangat mungkin membuatnya terbangun untuk menyusu selain karena rasa lapar.

Normalnya pada anak, terbangun dimalam hari untuk menyusu seperti yang terjadi pada si kecil bisa terus terjadi sampai anak disapih alias saat dimana ia mulai dihentikan menyusu. Jadi untuk hal ini sebaiknya Bunda tidak perlu khawatir berlebihan. Memang saat anak sering terbangun dari tidurnya maka itu akan mengganggu waktu tidurnya. Hanya saja dalam hal ini kondisi tersebut tidak akan menimbulkan dampak yang berbahaya.

Nah, Bunda untuk itu sebaiknya Bunda tetap tenang dan nikmati proses seperti ini karena ini adalah fase yang akan Bunda jalani sebagai Ibu. Selain itu yang terpenting bagi si kecil adalah mendapatkan asupan terbaik yang akan menunjang pertumbuhan dan perkembangannya dengan maksimal.

Untuk mengurangi frekuensi si kecil terbangun karena merasa lapar Bunda bisa memastikan jika si kecil sudah kenyang sebelum ia tidur. Dengan begitu ia tidak akan bangun karena kelaparan.

Nah, Bunda semoga bermanfaat ya :)

Anak Saya Demamnya Naik Turun, Apa Solusinya?

Categories: Tags:

Hai Bunda

Demam bisa disebut sebagai respon alami yang cukup normal bagi tubuh disaat tubuh sedang melawan infeksi. Baik itu infeksi akibat virus, bakteri, jamur atau parasit. Hanya saja meski demam bisa dikatakan normal demam juga bisa jadi penyakit yang serius jika sudah berlangsung lama. Karena demam normalnya terjadi selama beberapa hari.

Demam yang terjadi pada si kecil bisa disebabkan oleh beberapa kondisi tertentu. Seperti si kecil kembali terinfeksi saat tubuhnya sedang melawan infeksi, hal ini mungkin saja terjadi karena di fase penyembuhan daya tahan tubuhnya masih belum pulih sehingga memudahkan si kecil kembali terinfeksi. Selain itu demamnya juga bisa karena bakteri di dalam tubuhnya mulai kebal dengan antibiotik karena sebelumnya saat bakteri belum sepenuhnya mati yang membuatnya kembali demam dan kondisi medis lainnya seperti infeksi saluran kencing, TBC malaria dan lain sebagainya.

Penting agar Bunda bisa berkonsultasi lansung dengan dokter spesialis anak agar si kecil bisa menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan pastikan saat diperiksa Bunda memberikan riwayat kesehatannya selama ini. Nantinya dari hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatannya dokter akan mencari penyebab untuk memberikan pengobatan terbaik.

Di Kulit Anak Saya Muncul Bintik Merah Waktu Demam, Apa Penyebabnya?

Categories: Tags:

Pada anak yang masih bayi, anak baru bisa dikatakan demam jika suhu tubuhnya sudah melebihi 37,5 derajat celcius. Jika masih di bawah tentu belum bisa dikatakan demam

Pada bayi sebenarnya ada banyak kondisi yang bisa memicu demam, bisa terjadi karena penyebab yang ringan tapi juga bisa karena kondisi serius. Mulai dari infeksi saluran pernapasan seperti pilek, flu hingga radang tenggorokan, efek pertumbuhan gigi, efek imunisasi, sinusitis, diare akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi, disentri, tifus, cacar air, demam berdarah, malaria, infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis hingga infeksi darah.

Demam yang disertai batuk, sariawan dan munculnya bintik merah seperti yang terjadi pada si kecil bisa menjadi gejala dari kondisi medis tertentu. Sehingga penting agar Bunda bisa sesegera mungkin membawa si kecil ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari keterangan yang Bunda jelaskan, kemungkinan si kecil mengalami infeksi di dalam tubuhnya. Sebenarnya saat tubuh terserang infeksi memang sistem kekebalan tubuh akan bekerja untuk mengatasi infeksi yang terjadi. Hanya saja si kecil sekarang ini masih dalam fase pertumbuhan yang mana sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk sepenuhnya sehingga membutuhkan bantuan medis.

Untuk itu sebaiknya Bunda bisa membawa si kecil ke dokter. Nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan dan menentukan pengobatan terbaik. Penting agar Bunda bisa memberikan semua pengobatan yang dianjurkan dokter. Selain itu penuhi kebutuhan gizi si kecil juga penting untuk Bunda lakukan. Selain itu Bunda juga harus waspada dengan gejala yang mungkin menyertainya. Seperti, tubuh lebih lemas dan kesadaran berkurang, kurang responsive, lebih sering tidur dan susah dibangunkan, mengalami gangguan saat bernapas, mengalami gejala dehidrasi, muntah yang disertai rasa sakit di kepala dan lehernya terasa kaku, kulit dan bibir terlihat pucat, sakit di bagian telinga, kejang, ruam di kulit, diare yang berkelanjutan. Jika si kecil mengalami gejala tersebut segera larikan ke rumah sakit.

Bagaimana Caranya Menghilangkan Bintik Putih di Wajah Bayi?

Categories: Tags:

Halo

Pada bayi kecil kemungkinan bintik-bintik putih yang muncul di kulit disebabkan karena panu atau tinea versicolor, karena pada umumnya panu baru ditemukan pada anak yang usianya lebih dewasa kecuali memang faktor lingkungan yang sangat kotor. Karena panu merupakan gangguan yang terjadi akibat infeksi jamur.

Pada bayi, bercak putih di wajah merupakan salah satu kondisi yang sangat sering terjadi. Bercak putih tersebut muncul disebabkan pityriasia alba yang sampai sekarang ini sebenarnya masih belum ditemukan penyebab pityriasis alba tersebut.

Bercak putih atau lesi umumnya muncul di pipi, leher, lengan dan tubuh bagian atas memiliki bentuk yang bulat, berwarna merah muda dan tampak kering yang makin lama akan hipopigmentasi alias warna kemerahannya menghilang hingga kulit tampak berwarna putih. Lesi tersebut pun akan makin tampak terlihat jelas saat terkena paparan sinar matahari. Masalah ini sering muncul pada bayi yang punya jenis kulit kering.

Dalam kondisi tertentu bercak putih di kulit bayi juga bisa terjadi karena penyebab lain, salah satunya vitiligo. Vitiligo sendiri merupakan sebuah penyakit kulit yang terjadi akibat hilangnya pigmen pada kulit.

Untuk sekarang ini Bunda bisa mengoleskan pelembab khusus bayi secara rutin pada kulitnya. Karena pada umumnya gangguan seperti ini akan hilang dengan sendirinya. Hanya saja memang dibutuhkan waktu agar kulit bisa mendapatkan warna yang normal dan setiap anak pun membutuhkan waktu yang berbeda-beda.

Selain itu, penting juga agar Bunda bisa selalu menjaga kebersihan kulitnya. Segera ganti pakaian atau popoknya saat basah dan hindari paparan sinar matahari langsung apalagi saat siang hari yang terik.

Tapi jauh lebih baik agar Binda bisa memeriksakan si kecil ke dokter spesialis kulit guna menemukan penyebab pasti bercak putih yang muncul di kulitnya. Nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan langsung untuk menerapkan diagnosa dan jika diperlukan juga dilakukan pemeriksaan penunjang, dengan begitu penanganan terbaik pun bisa diberikan pada si kecil.

Apakah Benjolan di Ketiak Termasuk Penyakit Berbahaya?

Categories: Tags:

Halo

Munculnya benjolan umumnya terjadi karena peradangan yang terjadi pada kelenjar tubuh sehingga memicu pembengkakan. Pembengkakan terjadi sebagai upaya tubuh melawan infeksi dengan menghasilkan lebih banyak sel-sel darah putih.

Bagian ketiak pada manusia merupakan bagian yang punya banyak kelenjar dan salah satunya adalah kelenjar getah bening. Dari keterangan yang cukup singkat di atas, maka besar kemungkinan benjolan yang ada di ketiak karena peradangan yang terjadi pada kelenjar. Saat kelenjar mengalami gangguan umumnya memang akan memunculkan rasa nyeri, kemerahan, benjolan dan lain sebagainya. Gangguan tersebut bisa berupa iritasi di daerah ketiak, infeksi akibat bakteri ataupun virus, lipoma, reaksi alergi, abses pada kelenjar, kista, efek samping imunisasi, infeksi yang terjadi di sekitar area tangan atau payudara, fibroadenoma dan juga bisa karena kanker.

Ya, itulah faktor yang mungkin menjadi pemicu benjolan di ketiak, hanya saja untuk memastikannya dibutuhkan pemeriksaan lebih dalam guna benar-benar menentukan penyebabnya. Entah itu pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan jika memang diperlukan.

Jika benjolan terjadi akibat infeksi atai peradangan pada daerah kelenjar getah bening yang ada di ketiak maka pengobatan dengan mematikan penyebab infeksi harus dilakukan. Umumnya infeksi akibat virus dapat menghilang dengan sendirinya tapi tergantung dari kekebalan tubuh. Sedangkan infeksi akibat bakteri membutuhkan pengobatan dengan antibiotik.

Sebaiknya konsultasi langsung dengan dokter untuk menentukan penyebabnya. Hanya dengan anamnesis, pemeriksaan fisik langsung termasuk pula pemeriksaan tambahan seperti tes darah dan lain sebagainya apabila memang dibutuhkan. Untuk sekarang ini mengompres area yang terasa nyeri menggunakan handung yang sudah direndam air hangat bisa dilakukan. Selain itu, hindari menggunakan deodorant apalagi mencukur area ketiak.

Semoga bermanfaat ya informasinya  :)

Anak Usia 1 Tahun Belum Bisa Duduk Sendiri, Bagaimana Menanganinya?

Categories: Tags:

Hai Bunda Syafitri, selamat siang

Bayi Bunda sepertinya mengalami sedikit keterlambatan tumbuh kembang. Bayi yang mengalami tumbuh kembang yang lambat seperti ini biasanya karena beberapa faktor berikut:

– Bayi tidak terpenuhi gizi dan nutrisnya dengan baik

– Orang tua jarang memberikan stimulasi kepada bayinya

– Orang tua terlalu overprotektif, dan takut melepas anaknya untuk belajar

– Bayi pernah mengalami trauma

– Ada gangguan dari kondisi medis seperti cerebral palsy, gangguan pada sumsum tulang belakang, penyakit saraf tepi, IQ kurang, dan lain sebagainya.

Untuk tumbuh kembang pada bayi memang berbeda-beda Bub. Akan tetapi pada umumnya itu bayi sudah mampu duduk sendiri tanpa bantuan pada usianya yang ke 4 atau 7 bulan. Dan, untuk bayi yang sudah bisa berjalan sendiri biasanya di usia 12 hingga 18 bulan. Dan usia bayi Bunda seharusnya sudah memasuki tahap berjalan. Kalaupun memang belum bisa berdiri atau berjalan, itu masih bisa diwajarkan Bun. Akan tetapi, kalau di usia 1 tahun ini bayi Bunda belum bisa duduk sendiri dan masih tidak seimbang, maka bayi Bunda kemungkinan mengalami gangguan tumbuh kembang.

Untuk saran kepada Bunda dalam menstimulasi si kecil, sebaiknya jangan gunakan baby walker. Karena para ahli berpendapat kalau baby walker ini bisa membuat perkembangan motorik bayi menjadi lambat. Hal yang perlu Bunda lakukan saat ini adalah membawanya ke Dokter spesialis anak untuk diperiksa lebih lanjut kondisi tubuhnya, sehingga bisa diberikan penanganan yang tepat.

Normalnya BAB Pada Bayi Itu Berapa Kali Sehari?

Categories: Tags:

Hai

Untuk frekuensi BAB pada bayi itu kami memperoleh data dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dimana untuk bayi yang usianya 6 hingga 12 bulan jumlah frekuensi BAB-nya bisa sebanyak 2 kali sampai 4 kali dalam sehari. Akan tetapi, hal tersebut tentunya tidak dapat dijadikan patokan secara tetap. Karena, ada banyak faktor yang bisa saja berpengaruh terhadap pola dan juga frekuensi BAB pada bayi. Misalnya saja pada bayi yang baru lahir itu, frekuensi BAB-nya bisa mencapai 4 sampai 10 kali dalam seharinya, dan hal tersebut masih tergolong hal wajar.

Di bawah ini ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi pola dan juga frekuensi BAB pada bayi:

– Untuk bayi yang mengkonsumsi ASI atau susu formula

ASI atau pun susu formula adalah makanan pokok bagi bayi yang usianya masih di bawah 6 bulan. Untuk bayi yang minuma ASI pada umumnya frekuensi BAB-nya bisa 3 sampai 5 hari sekali saja. Dan, bahkan kami pernah mendapat kasus bahwa bayinya itu BAB hanya sekali seminggu saja. Hal tersebut masih dianggap wajar. Namun, yang perlu diperhatikan dalam feses bayi tersebut adalah teksturnya. Jika feses bayi lunak tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu kering, maka bayi mengalami konstipasi. Sedangkan bayi yang mengkonsumsi susu formula itu biasanya akan rutin BAB 1 kali dalam sehari, dan tekstur dari fesesnya pun pada umumnya keras.

– Bayi yang sudah mengkonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI)

Untuk bayi yang sudah mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI), maka frekuensi BABnya bisa berubah-ubah. Jika anak baru saja diperkenalkan dengan MPASI maka frekuensi BABnya bisa menjadi lebih sering atau bisa juga menjadi jarang. Itu tergantung dari jenis makanan yang diberikan dan pola pencernaan pada bayi sendiri.

– Cairan

Bayi yang kekurangan cairan bisa diindikasikan sebagai bayi yang dehidrasi. Bayi yang mengalami dehidarsi ini maka lebih cenderung jarang BAB, dibandingkan bayi yang jumlah cairan tubuhnya terjaga dengan baik.

– Ada penyakit

Bayi sedang terpapar infeksi dari virus atau bakteri maka frekuensi BABnya menjadi sering atau dikenal dengan nama diare. Selain diare bayi juga bisa mengalami konstipasi atau sulit BAB.

– Dan masih banyak lagi faktor lainnya

Untuk mengetahui apakah BAB pada bayi Anda normal atau tidak, maka yang dilihat itu tidak hanya frekuensinya saja, melainkan bentuk dan juga warna dari fesesnya. Jika memang bayi Anda itu sering BAB tapi, bentuk dan juga warnanya tetap normal dan tidak bayi Anda tidak rewel dan demam, maka bayi Anda termasuk dalam kategori normal.